Mengobati Penyakit Beri-Beri

Cara Mengobati Penyakit Beri-Beri Secara Alami

Beri-beri atau thiamine deficiency adalah penyakit yang muncul karena kekurangan vitamin B1 (tiamin) yang mempengaruhi banyak sistem tubuh, termasuk otot, jantung, saraf, dan sistem pencernaan. Istilah Beri-beri berasal dari bahasa Singhalese yang artinya “Aku tidak bisa, aku tidak bisa”, hal ini mencerminkan efek lumpuh pada penderita penyakit beri beri. Penyakit ini paling banyak dijumpai di kawasan Asia Tenggara, di mana nasi putih merupakan makanan utama. Berikut ini merupakan tanda-tanda beri-beri dan cara mengobati penyakit beri-beri secara alami:

Tanda-Tanda Penyakit Beri-Beri

Mula-mula terasa lemah lunglai dalam tungkai, sesudah itu terasa sakit dibetis dan kesakitan diseluruh tungkai. Bagian muka tungkai disepanjang tulang betis menjadi bengkak, dagingnya tiada lagi kenyal (apabila dipijat dengan ujung jari), lekuk bekas pijatan itu tiada lekas lenyap. Si penderita lekas sekali merasa letih, debar jantungnya bertambah keras. Makin lama makin sukar ia berjalan, ahirnya ia terpaksa berbaring saja. Kadang-kadang seluruh badannya tampak lebam dan gembur sangat cepanya, debar jantungnya keras sekali, si penderita merasa sesak dalam dada dan acapkali ia muntah-muntah, tak lama kemudian ia meninggal.

Cara Mengobati Penyakit Beri-Beri

  1. Yang terpenting yaitu menghindari diri dari penyakit itu untuk orang harus mengutamakan makanan yang banyak mengandung vitamin B, antara lain:
    – Beras tumbuk yang masih berkulit ari
    – Kacang hijau, kacang tunggak, kacang uci, kacang iris, ercis.
    – Sayur mayur seperti : daun ubi kayu, daun melinjo, petai, kobis merah, buncuis, lobak, mentimun, wortel, dll.
    – Buah-buahan seperti : jeruk manis dan pisang.
  2. Orang yang sudah dihinggapi penyakit beri-beri perlu istirahat. Perihal makanannya harus dijaga benar, tidak boleh sekali-kali ia makan nasi putih dan beras giling yang tidak berkulit ari, tetapi bubur katul. Sayur-sayuran yang telah disebutkan diatas tidak boleh pula dilupakan.
  3. Si penderita hendak dibuatkan obat sebagai berikut:
    Bahan: Kacang hijau 1 cangkir dan air 2 gelas
    Cara meramu: kacang hijau dicuci berkali-kali hingga bersih, lalu diberi air sekedar untuk membasahinya dan dibiarkan sehari-semalam sampai kacang hijau membesar, setelah itu dibubuhi air menurut takaran tersebut diatas dan dibiarkan terendam selama kurang lebih 6 jam.
    Pemakaian: Air rendaman itu diminum 2 kali habis dalam sehari, lakukan demikian selama 5 hari berturut-turut.
  4. Tungkai yang bengkak sebaiknya digosok dengan minyak tanah, atau dengan ramuan obat berikut ini:
    Bahan:
    – Cabai hitam 2 biji
    – Rimpang lempuyang sepanjang jari
    – Daun sirih 2 lembar
    – Beras 2 sendok makan
    – Arak secukupnya
    Cara meramu: keempat macam bahan tersebut ditumbuk dahulu lumat-lumat tiap kali akan dipergunakan dicampur dengan arak.
    Sesudah digosok dengan obat ini hendaklah tungkai si penderita dibalut seluruhnya dengan kain tebal.
  5. Apabila debar jantung keras letakkan kompres dingin pada dada sebelah kiri, atau rendamlah tangan dan kaki si penderita dalam air panas.
  6. Terhadap beri-beri yang berlangsung cepat harus dimintakan pertolongan pada dokter.

Demikian, semoga tulisan tentang cara mengobati penyakit beri-beri secara alami ini bermanfaat.



Ramuan tradisional adalah media pengobatan yang menggunakan tanaman dengan kandungan bahan-bahan alamiah sebagai bahan bakunya. Berbagai jenis tanaman yang berkhasiat obat sebenarnya banyak yang dapat diperoleh di lingkungan sekitar, seperti di halaman rumah, pinggir jalan, atau di dapur sebagai bahan atau bumbu masakan.

Kelebihan ramuan tradisional

Banyak keuntungan yang diperoleh dalam menggunakan ramuan tradisional, antara lain:

  1. Pada umumnya, harga ramuan tradisional lebih murah jika dibandingkan dengan obat–obatan buatan pabrik, karena bahan baku obat–obatan buatan pabrik sangat mahal dan harganya sangat tergantung pada banyak komponen.

  2. Bahan ramuan tradisional sangat mudah didapatkan di sekitar lingkungan, bahkan dapat ditanam sendiri untuk persediaan keluarga.

  3. Pengolahan ramuannya juga tidak rumit, sehingga dapat dibuat di dapur sendiri tanpa memerlukan peralatan khusus dan biaya yang besar. Hal tersebut sangat berbeda dengan obat-obatan medis yang telah dipatenkan, yang membutuhkan peralatan canggih dalam prose pembuatannya dan butuh waktu sekitar 25 tahun agar diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Penggunaan ramuan tradisional memiliki efek samping negatif yang sangat kecil jika dibandingkan dengan obat–obatan medis modern. Hal ini dikarenakan, bahan baku ramuan tradisional sangat alami atau tidak bersifat sintetik. Meskipun demikian, obat herbal yang baru tetap harus melewati uji klinis yang sama dengan obat-obatan sintetik. Selama mengikuti takaran yang dianjurkan, proses pembuatannya higienis, dan cara penyimpanan yang baik, maka efek samping negatif ramuan tradisional ini tidak perlu dikhawatirkan.